SEKOLAH DARI KEGAGALAN

February 3, 2008

SEKOLAH DARI KEGAGALAN

Oleh: Antonio Dio Martin

"Peristiwanya tidaklah penting. Tapi, respon pada peristiwa itu
adalah segala-galanya" (I Ching).

Kegagalan menjadi teman akrab dalam kehidupan kita. Siapa yang
merasa tidak pernah mengalami kegagalan dalam hidup barang
sekalipun? Hampir dipastikan nol persen. Ada beragam sikap
menghadapi kegagalan. Sering dalam menghibur kawan yang gagal, kita
melontarkan ucapan umum, seperti "kegagalan adalah sukses yang
tertunda" atau "kegagalan adalah awal kesuksesan" dan sebagainya.
Tentu saja, mantra positif itu diucapkan dengan tulus dan menambah
semangat. Namun, kalimat itu sering kita pakai lantaran kita tidak
tahu apa yang harus kita katakan. Jadi, sekadar menghibur.

Sebenarnya, memiliki perbendaharaan dan frame positif tentang
kegagalan merupakan salah satu benteng kokoh menghadapi
serangan `virus kegagalan’ dalam hidup kita. Sejarah mempunyai
seribu satu bukti. Banyak tokoh dunia sukses bukan karena mereka
tidak pernah gagal. Tetapi, bagaimana mereka merespon, berpikir,
bertindak, dan menyikapi kegagalan itulah yang justru mengantarkan
mereka pada puncak kesuksesan. Jatuh bangun adalah proses biasa
dalam meraih kesuksesan. Seperti puncak gunung tak akan dicapai
tanpa melalui jalan naik-turun nan terjal. Bahkan, belukar dan
kebuntuan jalan.

Setiap dari kita, termasuk Anda, perlu memiliki sebuah
perbendaharaan atau pun referensi yang bisa kita jadikan pegangan
saat mengalami kegagalan. Winston Churchill misalnya. Ia mengaku
doyan membaca biografi tokoh terkenal saat semangatnya sedang turun.
Buku itu membuat semangatnya bangkit. Ia merasa diteguhkan saat
dirinya lemah dan tak berdaya. Tak heran, salah satu nukilan
pidatonya yang populer "Never Give Up" bisa jadi berasal dari
penggalian inspirasi buku-buku itu. Memang, semangat itu menular
seperti layaknya kemalasan juga sering menular. Janganlah jemu
menimba energi-energi positif dari banyak hal, termasuk dari bacaan.

Kali ini, ada referensi menarik dari Joey Green dalam tulisannya
berjudul "The Road to Success is Paved with Failure." Tulisan Joey
Green ini menjadi inspirasi penting untuk menghadapi kegagalan.
Green berhasil menuliskan berbagai kisah maupun daftar orang yang
sukses secara luar biasa setelah mengalami berbagai kekalahan pahit.

Di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh kisah Walt Disney yang
sempat saya singgung pekan lalu. Perusahaan animasi pertama Disney
pernah pailit. Tapi, Disney mampu bangkit dan betapa besar bisnis
hiburan yang ditawarkan dunia Disney sekarang ini. Ada juga Tom
Monaghan. Dalam 20 tahun usahanya, ia bangkrut dua kali. Ia
kehilangan hak kontrol atas bisnisnya. Ia juga dituntut atas
pelanggaran hak cipta. Namun, belakangan bisnisnya malah meroket
dengan Domino’s Pizza-nya.

Ada lagi Fred Smith, orang yang hanya mendapat C dalam salah satu
proyeknya di Yale saat menuliskan idenya tentang jasa pengiriman
semalam. Tapi, nilai itu tidak sebanding dengan Federal Express,
industri raksasa pengiriman barang yang mendunia. Padahal ide itu
pernah diacuhkan oleh gurunya. Demikian juga perusahaan minuman Coca-
Cola. Pada tahun pertama, Coca-Cola hanya mampu menjual 400 botol.
Tapi, sekarang Coca-Cola ada di mana-mana. Bahkan, tidak ada satu
daerah pun yang boleh dibilang tidak pernah kemasukan penetrasi Coca-
Cola ini. Bahkan, gelombang Coca-Cola menjadi simbol nyata
globalisasi yang sedang berlangsung.

Sementara itu, Chester Carlson mencoba temuannya ke sekitar 20
perusahaan pada tahun 1940-an. Setelah bertahun-tahun mengalami
penolakan, ia berhasil meyakinkan Haloid, perusahaan kecil di
Rochester. Haloid kemudian menjadi salah satu perusahaan raksasa
untuk mesin fotokopi elektrostatik bernama XEROX Corporation. Ada
lagi Henry Ford. Dalam tiga tahun pertama membangun bisnisnya di
bidang otomotif, Ford bangkrut dua kali. Namun, kegigihannya
membuatnya dikenal dengan simbol mobil-mobil mewah bergengsi.

Selain di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh di bidang
kesusastraan, perfilman, olah raga, dan nyanyian. Sebut saja Elvis
Presley. Gurunya pernah memberinya nilai C dengan nada menghina saat
ia duduk di L.C. Humes High School di Memphis. Guru itu mencap
dirinya sama sekali tidak bisa bernyanyi. Tapi, kini Elvis Presley
menjadi penyanyi legendaris. Ada Michael Jordan yang pernah ditolak
saat mau bergabung dengan klub basket sekolahnya. Tapi, Jordan pun
jadi ikon bola basket legendaris.

Beatles juga pernah ditolak pada tahun 1962 oleh dapur rekaman
Decca, Pey, Philips, Columbia, dan HMV Labels. Juga Sigmun Freud
yang buku karyanya hanya laku 600 buah dengan mengantongi royalti
sebesar 250 dolar. Tapi, Freud dikenang sebagai Bapak Psikologi
ternama. Aktor Sylvester Stallone semasa kecil pernah dikeluarkan
dari 13 sekolah dalam rentang 11 tahun. Profesornya di Universitas
Miami mengolok-olok dirinya tidak berbakat akting. Ia juga manjadi
bahan tertawaan saat memainkan peran di film Dog Day Afternoon,
Serpico, dan The GodFather. Naskah filmnya Rocky ditolak oleh nyaris
semua perusahaan. Tapi, sebuah perusahaan menerimanya dengan syarat
Stallone tidak boleh main di dalamnya.

Ada lagi Rudyard Kipling. Ia pernah menulis cerita dan
mengirimkannya ke sebuah surat kabar di California pada tahun 1888.
Tapi, sang editor menolak. "Maaf Mr. Kipling. Anda tampaknya tidak
tahu bagaimana menggunakan Bahasa Inggris dengan baik," kata editor
itu. Belakangan, ia merupakan salah satu peraih nobel di bidang
sastra pada tahun 1907.

Nah, masih banyak contoh lainnya. Anda pun bisa melihat sendiri
orang-orang serupa di sekitar Anda. Ada satu benang merah yang
menarik. Saat Anda mengalami kegagalan, jangan kalang kabut. Jangan
biarkan energi Anda habis terkuras hanya karena terbekap kegagalan.
Sungguh sangat arogan jika kita selalu berharap semua berjalan mulus
tanpa kendala. Nah, ambilah medali kemenangan dari setiap kegagalan
yang kita alami. Kita tidak mungkin sukses tanpa memiliki keberanian
untuk gagal.

Lihatlah mereka yang sukses itu. Mereka melewati berbagai tantangan
dan kesulitan dengan jiwa besar. Kegagalan paling buruk adalah
mereka yang mencoba, lalu kalah dan menyerah. Dag Hammarskjold
pernah bilang, jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum
Anda mencapai puncaknya. Karena, Anda kemudian akan melihat betapa
rendahnya gunung itu. Tak ada kata menyerah!

Entry Filed under: Uncategorized. .



Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages