Sepuluh Unsur Kepribadian Billionaire
February 3, 2008
Minggu lalu saya berada di New York City, tepatnya Manhattan, yang
jaraknya kurang lebih 2500 mil dari kediaman saya di San Francisco
Bay Area. Seorang "mogul" alias pengusaha kelas kakap yang berteman
dekat dengan Donald Trump memanggil saya untuk membantunya dalam
mendirikan divisi baru institusi pendidikannya yang sudah mendunia.
Sebutlah namanya Mr. JC.
Sebagai seorang konsultan yang sering mendengar nama Mr. JC ini
disebut-sebut, tentu saja saya sangat girang ketika dikontak oleh
asistennya untuk mengunjungi Si Mogul ini untuk business meeting.
Dengan harap-harap cemas saya mempersiapkan segala sesuatunya agar
presentasi saya nanti tidak memalukan. Namanya saja berbisnis
dengan seorang pengusaha kelas kakap. Siapalah saya ini di matanya.
Ternyata, di luar dugaa n saya, Mr. JC sangat ramah dan informal.
Kecerdasannya tampak jelas dari "being comfortable in his own skin."
Ia sangat nyaman dengan dirinya sendiri, tidak ada unsur intimidasi
maupun berusaha tampak lebih cerdik daripada lawan bicaranya. Sungguh
saya sangat terkesan.
Selama kurang lebih 6 jam perjalanan pulang di pesawat, saya banyak
merenungkan pertemuan ini, terutama mengenai kepribadian Mr. JC yang
sangat menawan. Otak saya yang gemar melakukan studi komparasi
kembali bekerja. Satu per satu wajah orang-orang sukses muncul di
benak saya. Wah, ternyata banyak sekali kemiripan sifat dan perilaku
mereka dengan Mr. JC, yang tampaknya sangat bertolak belakang dengan
sifat-sifat dan perilaku mereka yang kurang berhasil.
Sepuluh unsur kepribadian seorang billionaire yang saya sarikan
berdasarkan komunikasi dan pergaulan pribadi dengan para billionaies
dan beberapa pengusaha sukses adalah sebagai berikut:
Satu, keberanian untuk berinisiatif.
Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka
selalu punya ide-ide jenial. Sebagai contoh, lihat saja si Raja Real
Estate, kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang lalu
sekarang sudah membuahkan lebih dari sekedar kerajaan properti belaka.
Ada boneka Donald, ada seri TV The Apprentice, ada online university
TrumpUniversity.com, bahkan ada t-shirt "You’re Fired" dan buku-buku
best-sellernya. Semua berangkat dari inisiatif belaka, yang bisa kita
pelajari dan tiru.
Dua, tepat waktu.
Selalu menepati janji dan tepat waktu karena ini adalah bukti
kemampuan memanage sesuatu yang paling terbatas di dalam hidup kita,
yaitu waktu. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua
keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis. Respek terhadap waktu
merupakan pencerminan dari respek terhadap diri send iri dan partner
bisnis.
Tiga, senang melayani dan memberi.
Seorang billionaire pasti mempunyai kepribadian sebagai pemimpin dan
seorang pemimpin adalah pelayan dan pemberi. The more you give to
others, the more respect you get in return. Syukur-syukur kalau ada
karma baik sehingga mendapat kebaikan juga dari orang lain. Paling
tidak dengan memberi dan melayani, kita sudah menunjukkan kepada dunia
betapa berlimpahnya kita. Alam bawah sadar kita akan terus membentuk
blue print sukses berdasarkan kemampuan memberi ini.
Empat, membuka diri terlebih dahulu.
Pernah Anda bertemu orang yang selalu mau bertanya soal hal-hal
pribadi tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri? Mereka
biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti mereka akan
sangat sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini adalah lawan
dari unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati
untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita
nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, sesuatu
yang dicari oleh para partner bisnis sejati. (Siapa yang mau bekerja sama
dengan orang yang misterius?)
Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik dengan para
partner bisnis.
Teamwork jelas adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Donald
Trump dan Martha Stewart pun mempunyai tim-tim mereka yang sangat loyal
sehingga mereka bisa mencapai sukses luar biasa. "No man is an
island," kita semua perlu membangun network kerja yang baik, sehingga
jalan menuju sukses semakin terbuka lebar.
Enam, senang mempelajari hal-hal baru.
Kembali kita mengambil contoh Pak Trump yang baru saja membuka online
university. Apakah beliau adalah ahli pendidikan? Seorang profesor?
Jelas tidak, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta
langsung mengaplikasikannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas
baginya. Dunia bisnis baginya adalah tempat bermain yang luas dan
tidak terbatas. Kuncinya hanya satu: senang belajar dan mencari hal-
hal baru.
Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama.
Lance Armstrong pernah berkata, "There are two kinds of days: good
days and great days." Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan
hari yang sangat baik. Jangan sekali-kali mengeluh di dalam bisnis,
walaupun suatu hari mungkin Anda akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap
kali gagal adalah kesempatan untuk belajar mengatasi
kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari.
Hari di mana Anda gagal tetap adalah a good day (hari yang baik).
Delapan, berani menanggung resiko.
Jelas, tanpa ini tidak ada kesemp atan sama sekali untuk menuju
sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak
disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good
or a great day (lihat di atas). So, untuk apa takut? Kegagalan pun
hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di
kemudian hari kan?
Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap
saat).
Berpikir positif adalah environment atau default state di mana
keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif
sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini
(kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan
kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan
semakin besar kemungkinannya.
Sepuluh, "comfortable in their own skin"
Alias nyaman dengan diri sendiri tanpa perlu berusaha menut up-nutupi
sesuatu maupun supaya tampak "lebih" dari lawan bicaranya. Pernah
bertemu dengan billionaire yang rendah diri alias tidak nyaman dengan
diri mereka sendiri? Saya yakin tidak ada. Kenyamanan menjadi diri
sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak
tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia
yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.
Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya
sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka
merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena
mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai
kenyamanan dengan diri sendiri.
Apakah Anda mempunyai kepribadian seorang billionaire? Hanya Anda
yang bisa menjawab. Salam sukses, sampai bertemu di puncak gunung
kesuksesan.
Sumber: Sepuluh Unsur Kepribadian Billionaire oleh Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev adal ah konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator
berbasis di San Francisco Bay Area. Baca perjuangan dan prestasinya
di JennieSBev.com.
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
You must be logged in to post a comment.
Subscribe to the comments via RSS Feed